Perilaku kekerasan ternyata masih akrab dengan mereka yang berstempel STPDN. Belum hilang dari ingatan betapa mengerikannya perlakuan mahasiswa STPDN terhadap juniornya, muncul lagi berita yang tak kalah mengenaskannya dari sebuah kota yang terletak sekitar 150 kilometer dari Makassar.
Kalau di kampus STPDN yang jadi korban kekerasan adalah mahasiswa baru, maka pada peristiwa di Bulukumba yang jadi korban justru wartawan yang sedang menjalankan tugasnya meliput pembagian beras miskin (raskin).
Bagaimana bisa pemerintah memproduksi dan memelihara calon pemimpin seperti itu. Apa yang diharapkan dari seorang pemimpin berperilaku barbar? Masihkah kita bisa berharap negeri ini akan menjadi makmur dan sejahtera jika pemimpin tempramental tetap menjadi pengambil keputusan di lembaga pemerintah tingkat terbawah?
Rupanya, kekerasan masih menjadi paham yang terus melekat di benak alumni STPDN sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah. Kekerasan seolah menjadi merk paten bagi mereka.
Jika perilaku tidak simpati aparat pemerintah terbawah ini tetap dibiarkan dan tidak segera diakhiri maka tunggulah wibawa pemerintah jatuh sampai di titik nadir. Wibawa itu akan tenggelam tak berbekas di telapak kaki rakyat yang sudah makin muak.
Sudah tak terbilang lagi rangkaian kekecewaan rakyat. Mulai dari perilaku tak bersahabat aparat selaku pelayan rakyat hingga kebiasaan yang begesekan dengan perilaku korup yang tetap terpelihara. Perilaku yang diduga menjadi sumber keberangan sang lurah sehingga menonjok wartawan yang sedang bertugas.
Bupati Bulukumba sebagai atasan langsung Lurah Loka seharusnya bertindak tegas. Pencopotan mungkin cara terbaik untuk mengatasi aparatnya yang mengedepankan sikap premanisme sebagai cara untuk menyelesaikan masalah.
Memang Bupati perlu memiliki keberanian ekstra untuk bertindak tegas karena dikabarkan lurah arogan itu anak seorang petinggi. Status sosial itulah rupanya yang menjadikannya semakin arogan.
Apapun langkah yang akan diambil Bupati Bulukumba terhadap bawahannya yang gemar menganiya tetap saja menarik ditunggu.
Kamis, 31 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar