Rabu, 30 Juli 2008

Pendidikan Gratis Masih Sebatas Janji

Tekad Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang untuk mewujudkan janji kampanyenya memberikan pendidikan gratis dan kesehatan gratis bagi masyarakat Sulsel membutuhkan kerja keras dan sinergisitas dengan unsur terkait.
Tahun ajaranbaru 2008-2009 sesungguhnya menjadi batu ujian awal untuk membuktikan tekad itu. Belum lagi janji politik itu hilang dari ingatan, rangkaian keluhan bernada makian langsung membuncah dan terekspos secara transparan di media.
Tidak sedikit orang tua yang berkeluh kesah karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk memasukkan anaknya ke sekolah sebagai siswa baru. Semua keluhan bermuara pada sikap dan keputusan yang diambil Sang Kepala Sekolah.
Salahkah orangtua siswa baru jika mengeluh? Rasanya tidak, karena biaya sekolah bagi siswa yang baru memang masih terasa mencekik padahal, ini merupakan tahun pertama untuk membuktikan janji kampanye Syahrul.
Wanti-wanti untuk menindak kepala sekolah yang nekad melakukan pungutan memang membuat banyak kepala sekolah harus menahan diri untuk tidak melakukan kebiasaan lamanya mencari peluang keuntungan dari orangtua siswa baru masuk. Namun tetap saja ada yang sangat berani mencoba bermain dengan berbagai dalih klasik yang justru membuat masyarakat makin geram.
Yang dibutuhkan sebenarnya adalah bukan bagaimana menindak Sang Kepala Sekolah selaku aktor dari maraknya pungutan di sekolah-sekolah, tetapi yang perlu dicari dan dibasmi sesungguhnya adalah sutradara yang menyebabkan sang aktor harus berjibaku dan nekad menantang risiko asal setorannya tetap aman.
Benarkah ada upeti yang wajib mereka setor ke orang tertentu untuk mengamankan jabatan mereka sebagai kepala sekolah? Sulit memang untuk membuktikannya karena selain kepala sekolah tak mau berbicara secara terbuka, setoran itu pun konon tak ada bukti tanda terimanya.
Pertanyaannya sekarang adalah dari mana Pak Gubernur Syahrul akan memulai melakukan pembenahan untuk menciptakan pendidikan gratis di Sulsel??? Sebagai pemimpin yang mengklaim diri sebagai PEMIMPIN CERDAS saat kampanye pilkada lalu tentulah pertanyaan ini tidak perlu terlalu dibiarkan mengambang.
Menarik ditunggu kiprah dan gebrakan CERDAS dan beradab karena pembuktian untuk itu masih harus ditunggu tahun depan saat sekolah membuka penerimaan siswa baru lagi.

Tidak ada komentar: