Bocah tak bernama Nazar itu meninggal di pangkuan ibunya di sebuah Puskesmas. Anak itu meregang nyawa ketika bapaknya sedang berjuang mencari utangan Rp 20.000 untuk membiayai pengobatan anaknya yang sat itu menunggu di Puskesmas.
Berita itu yang mewarnai media massa pekan lalu ibarat bom dengan daya ledak cukup dahsyat di tengah masyarakat. Betapa tidak, bapak anak itu berjuang mencari utangan Rp 20.000. Padahal belum hilang dari ingatan betapa bagaimana pemimpin Sulsel menjanjikan KESEHATAN GRATIS saat kampanye dulu.
Yang banyak disesalkan orang, mengapa anak itu tidak ditangani seja lebih dulu sambil menunggu orang tuanya yang konon sedang mencari utangan dari tetangganya karena benar-benar tidak punya duit.
Bukan pejabat Indonesia kalau tidak pandai membuat alasan untuk menutupi kesalahannya dalam mengembang tugas dan tanggung jawab. Ketika berita matian bocah Nazar merebak, pihak puskesmas langsung melakukan pembelaan dengan mengemukakan standar pelayanan di puskesmas tersebut tanpa mau apakah masyarakat yang datang berobat paham standar baku dimaksud.
Maut memang tak pernah bisa dipastikan kapan datangnya. Bocah Nazar pun sudah menghadap pencipta-Nya tanpa banyak protes karena memang dia belumlah paham apa-apa tentang kehidupan ini.
Poin penting yang harus diperhatikan dari peristiwa ini adalah petugas kesehatan yang ditempatkan di semua Puskesmas sejatinya memberi pelayanan maksilam kepada setiap pasien yang datang dengan mengedepankan biaya yang harus dibayar pasien terlebih dahulu sebelum memberi pelayanan.
Yang harus diutamakan adalah kesehatan pasien karena alasan kesehatan itu pulalah yang memaksa mereka datang untuk berobat.
Tak ada gunanya lagi menyalahkan siapa pun dalam kasus ini, apalagi pihak Puskesmas dan keluarga Nazar mengaku sudah menyelesaikan masalah di antara mereka dan sudah saling memaafkan.
Harapan banyak orang tentu saja tidak ingin lagi mendengar kaba ada yang meninggal hanya karena tidak sanggup membayar biaya pengobatan Rp 20.000 di tengah-tengah upaya Gubernur Syahrul membuktikan janji kampanyenya menciptakan KESEHATAN GRATIS.
Senin, 11 Agustus 2008
Jumat, 01 Agustus 2008
Mahasiswa di Markas PSK
Dari sisi status antara mahasiswa dan pekerja seks komersial (PSK) ibarat langit dan bumi. Predikat mahasiswa bagi banyak orang masih dianggap memiliki nilai lebih dibandingkan orang sebayanya yang tidak beruntung duduk di bangku kuliah.
Sejatinya, mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik dan sejahtera. Mengharumkan nama bangsa melalui ukiran prestasi yang tentu saja membanggakan.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa menyadari posisi lebih yang disandangnya. Lihatlah misalnya berita yang diturunkan Tribun, hari ini (Jumat,1/8), yang mengulas adanya oknum mahasiswa yang melakukan pekerjaan tidak terpuji.
Oknum mahasiswa yang nota bene berasal dari perguruan tinggi ternama dan saat ini sedang menyelesaikan studinya, dilaporkan oleh seorang perempuan yang diketahui sebagai pekerja seks komersial (PSK) telah melakukan sesuatu yang tidak selayknya dilakukan seorang mahasiswa.
Ironisnya, prosesi pertemuan mereka justru terjadi di tempat dugem di salah satu hotel ternama di Makassar. Fakta ini setidaknya menunjukkan betapa perilaku sebagian calon pemimpin bangsa ini sudah menjadikan tempat hiburan malam sebagai salah satu cara untuk menghabiskan waktunya.
Padahal, sebagai mahasiswa yang duduk di semester akhir, waktunya seharusnya lebih banyak digunakan membaca buku atau melakukan penelitian untuk mendukung kapasitasnya sebagai mahasiswa.
Bagi PSK, THM tentulah bukanlah tempat yang asing karena di situlah memang komunitas mereka dalam menjaring lelaki hidung belang. THM dan PSK memang ibarat dua sisi mata uang.
Jangan salahkan jika ada publik yang berasumsi bahwa mahasiswa saat ini tidak lagi seheboh dengan mahasiswa yang dulu berjuang membebaskan negeri ini. Mahasiswa saat ini sudah lebih banyak memikirkan diri sendiri ketimbang berpikir untuk bangsa.
Semoga saja oknum mahasiswa yang diberitakan Tribun Timur tidak mewakili prototipe mahasiswa masa kini, tetapi yang bersangkutan hanyalah anak adam yang sedang khilaf.
Sejatinya, mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik dan sejahtera. Mengharumkan nama bangsa melalui ukiran prestasi yang tentu saja membanggakan.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa menyadari posisi lebih yang disandangnya. Lihatlah misalnya berita yang diturunkan Tribun, hari ini (Jumat,1/8), yang mengulas adanya oknum mahasiswa yang melakukan pekerjaan tidak terpuji.
Oknum mahasiswa yang nota bene berasal dari perguruan tinggi ternama dan saat ini sedang menyelesaikan studinya, dilaporkan oleh seorang perempuan yang diketahui sebagai pekerja seks komersial (PSK) telah melakukan sesuatu yang tidak selayknya dilakukan seorang mahasiswa.
Ironisnya, prosesi pertemuan mereka justru terjadi di tempat dugem di salah satu hotel ternama di Makassar. Fakta ini setidaknya menunjukkan betapa perilaku sebagian calon pemimpin bangsa ini sudah menjadikan tempat hiburan malam sebagai salah satu cara untuk menghabiskan waktunya.
Padahal, sebagai mahasiswa yang duduk di semester akhir, waktunya seharusnya lebih banyak digunakan membaca buku atau melakukan penelitian untuk mendukung kapasitasnya sebagai mahasiswa.
Bagi PSK, THM tentulah bukanlah tempat yang asing karena di situlah memang komunitas mereka dalam menjaring lelaki hidung belang. THM dan PSK memang ibarat dua sisi mata uang.
Jangan salahkan jika ada publik yang berasumsi bahwa mahasiswa saat ini tidak lagi seheboh dengan mahasiswa yang dulu berjuang membebaskan negeri ini. Mahasiswa saat ini sudah lebih banyak memikirkan diri sendiri ketimbang berpikir untuk bangsa.
Semoga saja oknum mahasiswa yang diberitakan Tribun Timur tidak mewakili prototipe mahasiswa masa kini, tetapi yang bersangkutan hanyalah anak adam yang sedang khilaf.
Langganan:
Postingan (Atom)
